Nafas Nafsu

March 24, 2015

Malam terlewati dengan lamban, saat harus terjaga dengan gejolak tak beraturan.
Bagaimana nalar bisa berfikir realistis jika nafsu hanya menyisakan sedikit ruang utk berfikir logis?
Malam beranjak pelan saat nafsu menghujam kelam, menyisihkan norma etika dan kewarasan sisi “manusia”, memenjara rapat-rapat aturan agama dan menafikan dosa.
Mungkin aku sebinatangnya binatang, yang menginginkan percumbuan sesaat tak terikat.
Aku ingin bibirmu..yang ku kulum pelan-pelan dengan nafsu..
Aku ingin nafasmu, yang berhembus hangat di telingaku..
Aku ingin tubuhmu, yang ku dekap erat sambil menghitung detik waktu berlalu..
Tapi jangan tanya “kau apa ku”, besok..
Karena bila subuh telah datang..dan pagi kembali menghangatkan, tentu nafsu ku, dan kebinatangan ku tak lagi kesepian atau kedinginan.
Pun kita..kembali dengan keceriaan sahabat-sahabat dan hangat dalam cinta yang sedikit bermartabat.
Bila kegelapan kembali lagi, menakutkan ku, mengigilkanku, ku pastikan aku akan mendatangi mu, mendekapmu, menciummu, mencumbu mu…lagi…
Ah..Aku memang sebinatangnya binatang..Saat itu..
Saat nafas dan nafsu ku..saling memburu..

Trenggalek, 24 Maret 2015, 03.42

nafsu

nafsu


Kita…Beda

May 13, 2014

Kita selalu berbeda dalam mengartikan monolog kopi hitam dan sayatan lembut melody blues. Aku..kamu..saling silang berseberangan di ujung jalan masing-masing. Tegak dengan pongah yang tak lagi mungkin ter-elak, membentangkan jurang ego yang menganga hitam dan dingin. Perbincangan terakhir telah lunas di perjamuan seremonial yang beku dan kaku. Sebisanya… dua pasang mata kita saling hindar untuk bertemu, dan melemparnya pada¬†lembah-lembah kosong nan jauh. Sekuat tenaga kita genggam keyakinan yang kita anggap benar.. Ya…mungkin ini bukan tentang kamu yang salah..atau aku yang benar…

Kau bertahan dengan bijak dengan diksi yang tepat,

Sedang aku tak juga menemukan warna keselarasan atas jalan yang tertapaki bersama,

Dan aku masih begitu kesulitan untuk berbohong…

Bahwa..kita memang benar-benar berbeda…

Maaf…

 

2


March 25, 2013

Detik mendetakkan waktu,
menuakan malam-malam renta yang mendendamkan rindu di tiap inci ksendiriannya.

Koridor-koridor kembali lelap dalam gelap,
menyisakan sketsa, memahat cerita di tiang-tiang bisu yang membeku kusam…

Lengang….


Sesederhana Cintaku

January 16, 2013

Trenggalek, 10 Jan’2013

Kadang aku berfikir, cinta itu seperti melody dalam aransemen musik.
Suatu saat berdendang syahdu mendayu..
ada kala memekik, menyayat perih luka.
Dan kita disana, mencipta…menyanyikan lirik lirik sederhana…apa adanya…
dengan nadaku yang begitu biasa, juga nadamu yang bersahaja…
Karena cintaku bukan tentang suaramu yang mempesona,..
atau lengkinganku yang menggelora..
Ini tentang aku….dan kamu…
Bersama…
yang menanggalkan idelaisme dan keakuan…
Suaramu…tetaplah suaramu…
nadaku…Tetaplah nadaku…
dan..kita hanya meraciknya menjadi tembang yang padu…sekuat hati…
Seindah mimpi-mimpi kita, yang akan kita ceritakan pada anak cucu kita…nanti…
Semoga…
Amiin..


Sebenarnya, Aku butuh kamu

November 9, 2012

Trenggalek, 09/11/2012 | 20:29

Seringkali aku terpukau melihat kebaikan seseorang. Santun, lemah lembut, n berbagai bentuk basa basi kehangatan interaksional, yang membuatku merasa nyaman (sesaat) dan tersnjung. Manakala semua itu tiba2 saja menghilang, dengan bodoh aku dendangkan pisuhan dan segudang serapah lain, sebagai reaksi konyol atas keacuhan mereka yang kuanggap sebagai penghianatan. Parahnya, aku lebih suka mengatakn bahwa, sanjungan2 dan perhatian itu hanya kalimat retoris yang dipersopan utk mengatakan “aku butuh kamu dan menginginkn kamu untuk membantuku cuk..!!, (tapi aku tidak ingin terkesan “butuh)”.
Ah….mungkin aku memang belum cukup “nyegoro”, berjiwa besar, untuk menjadi manusia yang sedikit lebih bijak. Jiwaku memang masih terlalu kecil untuk lebih banyak ber-“khusnudzon” seperti poro Kyai sepuh…

#Monolog Kopi Hitam