Nafas Nafsu


Malam terlewati dengan lamban, saat harus terjaga dengan gejolak tak beraturan.
Bagaimana nalar bisa berfikir realistis jika nafsu hanya menyisakan sedikit ruang utk berfikir logis?
Malam beranjak pelan saat nafsu menghujam kelam, menyisihkan norma etika dan kewarasan sisi “manusia”, memenjara rapat-rapat aturan agama dan menafikan dosa.
Mungkin aku sebinatangnya binatang, yang menginginkan percumbuan sesaat tak terikat.
Aku ingin bibirmu..yang ku kulum pelan-pelan dengan nafsu..
Aku ingin nafasmu, yang berhembus hangat di telingaku..
Aku ingin tubuhmu, yang ku dekap erat sambil menghitung detik waktu berlalu..
Tapi jangan tanya “kau apa ku”, besok..
Karena bila subuh telah datang..dan pagi kembali menghangatkan, tentu nafsu ku, dan kebinatangan ku tak lagi kesepian atau kedinginan.
Pun kita..kembali dengan keceriaan sahabat-sahabat dan hangat dalam cinta yang sedikit bermartabat.
Bila kegelapan kembali lagi, menakutkan ku, mengigilkanku, ku pastikan aku akan mendatangi mu, mendekapmu, menciummu, mencumbu mu…lagi…
Ah..Aku memang sebinatangnya binatang..Saat itu..
Saat nafas dan nafsu ku..saling memburu..

Trenggalek, 24 Maret 2015, 03.42

nafsu

nafsu

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: