Nafas Nafsu

March 24, 2015

Malam terlewati dengan lamban, saat harus terjaga dengan gejolak tak beraturan.
Bagaimana nalar bisa berfikir realistis jika nafsu hanya menyisakan sedikit ruang utk berfikir logis?
Malam beranjak pelan saat nafsu menghujam kelam, menyisihkan norma etika dan kewarasan sisi “manusia”, memenjara rapat-rapat aturan agama dan menafikan dosa.
Mungkin aku sebinatangnya binatang, yang menginginkan percumbuan sesaat tak terikat.
Aku ingin bibirmu..yang ku kulum pelan-pelan dengan nafsu..
Aku ingin nafasmu, yang berhembus hangat di telingaku..
Aku ingin tubuhmu, yang ku dekap erat sambil menghitung detik waktu berlalu..
Tapi jangan tanya “kau apa ku”, besok..
Karena bila subuh telah datang..dan pagi kembali menghangatkan, tentu nafsu ku, dan kebinatangan ku tak lagi kesepian atau kedinginan.
Pun kita..kembali dengan keceriaan sahabat-sahabat dan hangat dalam cinta yang sedikit bermartabat.
Bila kegelapan kembali lagi, menakutkan ku, mengigilkanku, ku pastikan aku akan mendatangi mu, mendekapmu, menciummu, mencumbu mu…lagi…
Ah..Aku memang sebinatangnya binatang..Saat itu..
Saat nafas dan nafsu ku..saling memburu..

Trenggalek, 24 Maret 2015, 03.42

nafsu

nafsu

Advertisements